<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334</id><updated>2012-02-16T11:56:22.392-08:00</updated><category term='Islam'/><category term='Siswa'/><category term='Pendidikan'/><category term='Orang tua'/><category term='Inquiry-Learning'/><category term='Guru'/><category term='Jepang'/><category term='Sekolah'/><title type='text'>Sekolah Islam</title><subtitle type='html'>This is how Muslims should prepare their generations</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-6677789514051393598</id><published>2009-09-10T08:03:00.001-07:00</published><updated>2009-09-10T08:03:50.011-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Perjalanan Liberalisme di Indonesia</title><content type='html'>Di awal kemerdekaan Indonesia semangat jihad melawan penjajah begitu kental. Seruan untuk mengusir penjajah berkobar dari pesantren. Kalangan santri menjadi pelopor dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak heran bila di awal berdirinya negara Indonesia, berbagai seruan yang mendukung untuk dibentuknya negara Islam bergaung cukup signifikan. Ini dibuktikan dengan besarnya jumlah dukungan pada partai politik Islam yang mendukung konsep negara Islam. Masyumi, NU, PSII dan semua kaum muslimin yang berafiliasi pada santri saat itu mendukung gagasan negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kaum Muslimin miskin politikus maupun negarawan, sehingga sikap akomodatif dan toleransinya dalam pemerintahan dimanfaatkan segelintir orang untuk membelokkan kemerdekaan ke arah demokrasi. Meski tokoh nasional seperti Natsir, Syafruddin, Roem, dan beberapa tokoh Masyumi pada awal kemerdekaan itu hampir tidak ada yang menulis demokrasi liberal. Mereka tahu apa bahaya pemikiran demokrasi liberal. Namun, mengingat lemahnya kekuatan politik kaum Muslimin, mereka terpaksa menerima label demokrasi selama mengadopsi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, di bawah tekanan orde lama, kekuatan Islam mengalami pergeseran setelah transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru, khususnya pada pemikir liberal seperti Nurcholish Madjid, Dawam Raharjo, dan lain-lain. Mereka menyerang paradigma politik Islam, dengan label-label demonologis. Meski sebetulnya hal itu sudah dimulai oleh Munawir Sadjali. Pada tahun 50-an dia menulis risalah kecil yang menolak negara Islam. Sebagai gantinya, para pengusung liberalisme ini gencar menggembar-gemborkan euforia demokrasi dari barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menggeser gerakan syariah, Luthfi Assyaukanie mendikte bahwa demokrasi tidak akan pernah berjalan kecuali di atas platform negara sekuler: negara yang betul-betul memisahkan urusan agama dengan negara. Sehingga peran Islam dalam mengatur hukum pemerintahan perlu dimarjinalkan. Setelah tahun 80-an, dua tokoh liberal Cak Nur dan Gus Dur mulai mengkritisi negara yang terlalu ikut campur dalam urusan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ide sekulerisme ini banyak menimbulkan kontroversi, mengingat masih kuatnya akar budaya santri di tingkat akar rumput, namun media massa mampu membuat mereka ditokohkan dan terpublikasi. Luthfi mengklaim, “Sama seperti orang-orang Masyumi dan kaum santri pada tahun 50-an belum bisa menerima demokrasi, dan tidak bisa menolak konsep negara Islam. Sekarang ini hampir tidak ada orang yang mau menerima negara Islam. Artinya berbalik 180 derajat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan gerakan liberal dalam menggeser ide Islam ini tak luput dari dukungan media massa dan beberapa organisasi penyokong dana dari Barat seperti TAF dan universitas-universitas yang menyediakan beasiswa bagi Muslim yang berawasan liberal. Di Indonesia, Adian Husaini mengkategorikan beberapa modus gerakan liberalisme, mulai yang disebut sebagai “eceran”, yakni melalui media massa, maupun yang “partai” yakni tersistem dalam perguruan tinggi. Berarti tahapan liberalisasi Islam sudah hampir mencapai klimaksnya: sekulerisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-6677789514051393598?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/6677789514051393598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=6677789514051393598' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/6677789514051393598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/6677789514051393598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/09/perjalanan-liberalisme-di-indonesia.html' title='Perjalanan Liberalisme di Indonesia'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-3206155499064999177</id><published>2009-07-15T20:16:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.569-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><title type='text'>Menimbang perlunya Seragam Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://cianjurkab.go.id/Ver.3.0/images/berita_foto/besar5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6cZDvx6AI/AAAAAAAAAT0/YwfInDjctzQ/s200/besar5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358892560933840898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seragam adalah hantu bagi wali murid baru di awal tahun ajaran. Pengeluarannya yang bisa mencapai 1/4 dari total anggaran pendidikan anak. Tulisan berikut ini berusaha menimbang perlunya seragam sekolah bagi siswa TK hingga SMA. Mari kita simak artikel di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0411/22/opi04.htm"&gt;Artikel: Penghapusan Seragam Sekolah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Foto disamping Apa pentingnya serag&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;am wisuda bagi siswa TK?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kritisi. Tanggapan berikut ini adalah terhadap artikel tersebut, dengan mempertimbangkan faktor siswa secara luas, mulai TK hingga Mahasiswa. Poin dibuat berurutan sesuai dengan nomor urut pada artikel di atas.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Tanggapan Saya&lt;/h3&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;Seragam yang bermacam-macam jenisnya memberatkan bagi keluarga miskin. Di TK anak saya, misalnya, seragam sekolahnya saja mencapai 300.000 rupiah (tahun 2008). Sementara gaji bulanan ayahnya yang guru adalah 500.000 rupiah. Belum ditambah dengan biaya yang lain yang di total mencapai 1 juta, itu pun setelah didiskon. Saya sampai bersungut-sungut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;Seringkali siswa disibukkan dengan masalah seragam. Seragam kotor, masih basah, tereselip entah kemana, membuat siswa tidak dapat berangkat sekolah. Kalau dipaksa ke sekolah dengan seragam berbeda, dia akan merasa minder sehingga mempengaruhi kualitas belajarnya. Saat mengetahui seragam yang dipakainya keliru, giliran anak saya bersungut-sungut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ketiga dan keempat, &lt;/span&gt;kerapian dan keindahan tidak cuma bisa ditampilkan dengan seragam. Dengan pakaian bebas pun seorang siswa bisa tampil rapi dan elegan. Secara massal, memang dengan berseragam lebih indah dipandang. Misalnya saat baris-berbaris pada waktu upacara. Tetapi upacara hanya sekali dalam seminggu, dan itupun hanya beberapa jam. Lagipula, apa anda tidak pernah mendapati kalau seragam sekolah tertentu desainnya kuno?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kelima,&lt;/span&gt; kebanggaan orang tua ini terhadap anaknya yang berangkat sekolah atau pada seragamnya? Perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan klaim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Keenam,&lt;/span&gt; secara fisik boleh jadi begitu, meski sebenarnya lebih tepat disebut keseragaman. Sedangkan persatuan dan kesatuan itu adalah hal yang intrinsik, sehingga sekali lagi perlu dibuktikan bagaimana perasaan siswa saat diberikan pilihan antara berseragam sekolah atau berpakaian bebas (demi obyektivitas, penelitian sebaiknya juga meliputi mahasiswa).Anda pernah menonton TV dong, bagaimana senioritas terkadang membuat mereka merasa berhak menganiaya para juniornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ketujuh, &lt;/span&gt;saya tidak melihat pentingnya membedakan jenjang pendidikan dari TK hingga SMA. Kalau identitas itu diperlukan, mungkin untuk mengetahui identitas sekolahnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kedelapan, &lt;/span&gt;saya setuju dengan pemantauan ini. Dalam kasus masuknya orang asing ke lingkungan sekolah ini juga beralasan. Hanya saja perlu dibandingkan dengan kampus, dimana orang umum bebas keluar masuk lingkungan sekolah sementara keamanan bisa tetap dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kesembilan,&lt;/span&gt; logikanya agak aneh. Bagaimana dengan mahasiswa, apakah dengan tanpa &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.ibn.ac.id/ruang_kelas1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6dGgTnXzI/AAAAAAAAAT8/Yvz0JTLK4y8/s200/ruang_kelas1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358893341694451506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;berseragam mereka akan merasa liar? Perlu dilakukan penelitian untuk mengukur pengaruh seragam terhadap penurunan pelanggaran susila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;Mahasiwa bisa tampil rapi dan disiplin meski tanpa seragam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kesepuluh,&lt;/span&gt; saya tidak melihat signifikansi dari poin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Keuntungan Bila Tanpa Seragam&lt;/h3&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;hemat, sehingga terjangkau oleh rakyat miskin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; tidak membebani psikologi siswa pada hal yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan. Mereka perlu fokus kepada pelajaran, tidak perlu dialihkan kepada hal lain yang tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6dxn-dSZI/AAAAAAAAAUE/cs53_uwaklY/s1600-h/IMG_3912.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6dxn-dSZI/AAAAAAAAAUE/cs53_uwaklY/s200/IMG_3912.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358894082487568786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Foto disamping: Di banyak sekolah di Jepang, siswa SD hanya diwajibkan berseragam pada saat olah raga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; keterbukaan. Siswa dapat tampil apa adanya, sesuai dengan karakter dan kesukaan mereka. Guru dapat melihat bagaimana masing-masing gaya siswa yang sebenarnya sehingga dapat memberikan penilaian tentang hal itu. Misalnya bila siswa suka mengenakan baju yang terlalu mencolok, guru bisa mendekati dan menyarankan sesuatu untuk kebaikan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; keindahan. Siswa dapat tampil serapi atau semenarik mungkin (dalam batas kesopanan). Ini adalah hal alamiah yang dimiliki oleh seorang anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kelima,&lt;/span&gt; memunculkan toleransi. Siswa dapat tampil sesuai dengan kebiasaan/ budaya keluarganya, sehingga semua siswa akan dapat melihat kenyataan bahwa masing-masing itu berbeda, dan mereka akan berlatih untuk menghargai perbedaan. Bila ada siswa yang kurang mampu, maka tentu akan dapat dikenali, disini siswa yang lain dapat segera memberikan respon positif misalnya berupa bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Keenam, &lt;/span&gt;menciptakan obyektivitas. Ketika berbaur dengan banyak siswa yang lain, seorang tidak akan dapat dibedakan mana yang senior dan junior. Maka yang dihargai bukan lagi penampilannya, melainkan kualitas pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Kesimpulan&lt;/h3&gt;Menimbang baik dan buruknya pemberlakuan seragam di sekolah, maka saya berpendapat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika sekolah mengadakan seragam, hendaknya memperhatikan kondisi ekonomi siswanya. Misalnya dengan membantu siswa yang kurang mampu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seragam atau tidak, ukuran kesopanan dan kerapian hendaknya diukur dari standar Islam. Bila tidak akan terjadi perbedaan yang mencolok dan tidak perlu. Misalnya, betapa kapitalistiknya aturan "dilarang memakai sandal di kampus" lantaran dianggap tidak sopan (?) sementara yang berbaju ketat dan "kekong" (kethok bokong -maaf) dibiarkan berlalu lalang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Jika ditanya, apakah dalam sekolah saya kelak akan menerapkan pemberlakuan seragam? saya akan jawab "hanya satu jenis seragam saja" untuk keperluan seremonial, karnaval, atau mengirim perwakilan sekolah, sementara untuk hari-hari kebanyakan siswa dibiarkan memilih baju kesukaannya untuk berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang giliran anda mengkritisi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-3206155499064999177?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/3206155499064999177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=3206155499064999177' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/3206155499064999177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/3206155499064999177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/07/menimbang-perlunya-seragam-sekolah.html' title='Menimbang perlunya Seragam Sekolah'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6cZDvx6AI/AAAAAAAAAT0/YwfInDjctzQ/s72-c/besar5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-710051276462390650</id><published>2009-07-15T19:25:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:25:05.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inquiry-Learning'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Penerapan Metode Inquiry-Learning pada Pelajaran Desain Grafis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl7_-DIzSjI/AAAAAAAAAUQ/CU0hGpHhleo/s1600-h/100_6967.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl7_-DIzSjI/AAAAAAAAAUQ/CU0hGpHhleo/s200/100_6967.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359002048076663346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mata pelajaran desain grafis seperti Adobe Photoshop boleh jadi disangka sangat teknis dimana untuk menghasilkan sebuah gambar garis, misalnya, seorang desainer cukup menarik pena dari satu titik ke titik lainnya. Tetapi dengan kekayaan fasilitas filter (menu) pada software desain grafis, seorang guru dapat mengajak siswa untuk menganalisa langkah-langkah baru yang tentu akan menghasilkan variasi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berangkat sejak dulu pernah saya tidak setuju dengan definisi garis yang diberikan oleh guru gambar saya, yakni “garis adalah kumpulan titik-titik yang rapat dan sejajar”. Sebab saat saya membuat garis saya tidak sedang membuat banyak titik, tul… tul… tul… tetapi satu tarikan reeet…! Dari sini saya berpikir bahwa garis itu dapat difenisikan bagaimana saja tergantung bagaimana cara orang membuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mari kita mulai saja pelajaran ini…&lt;br /&gt;&lt;h3 style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tingkat Awal: Mandiri&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Berikan beberapa file gambar (text layer, text rasterize, dots, foto, dsb.)&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Minta siswa untuk mengaplikasikan salah satu filter pada semua gambar tersebut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanyakan kepada siswa apa dampak filter tersebut terhadap gambar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Minta siswa untuk mendefinisikan fungsi filter itu sendiri secara detail. Pendapat yang paling mendekati dengan dampak yang dihasilkannya adalah yang paling dapat diterima. Boleh jadi merupakan kompilasi dari beberapa pendapat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tingkat Lanjut: Berkelompok&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tunjukkan sebuah gambar hasil manipulasi sederhana dari Adobe Photoshop disertai dengan gambar aslinya,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanyakan kepada siswa apa yang telah dilakukan pada foto aslinya sehingga menjadi gambar manipulasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajak siswa untuk mencoba mempraktekkan pendapatnya tadi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di akhir percobaan, minta siswa berkomentar sekali lagi terhadap pendapat pertamanya tadi. Siswa lain akan memiliki pendapat dan pengalaman yang berbeda, mereka dapat berbagi untuk menciptakan gambar yang paling mendekati dengan gambar hasil manipulasi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;h3&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tingkat Mahir: Individu/Berkelompok&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Minta siswa untuk mengerjakan satu proyek dengan memberikan gambaran terhadap hasil akhirnya. Misalnya, poster tentang demonstrasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Minta siswa membuat rancangan perkiraan desainnya. Misalnya siswa akan membuat kesan berdarah, kekerasan, konflik, warna kusam, dan semacamnya. Guru hanya mengeksplorasi seberapa kreatifkah siswa dalam menambahkan asesori untuk menambah citra rasa desainnya. Guru tidak perlu menyarankan siswa untuk menambahkan efek api, sebab itu dapat mencampuri imajinasi siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Minta siswa bekerja kelompok dalam waktu yang cukup. Bila dalam beberapa pertemuan, maka minta siswa untuk membagi pekerjaan menur ut elemen-elemen yang dibutuhkan. Tetapi mereka harus membicarakan konsepnya bersama-sama. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah selesai, siswa menunjukkan hasil kerjanya, menyampaikan alasannya memilih desain tersebut, menjelaskan filosofinya, dan teknik pembuatannya. Sementara siswa yang lain memberikan komentar atas kesannya, menyarankan teknik tertentu atau tambahan elemen yang lain. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berikut hasil desain saya menggunakan Adobe Photoshop. Perhatikan Bagaimana masing-masing elemen dibuat?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6VdDRYdrI/AAAAAAAAATk/DZC5uflFlg8/s1600-h/website-header-tower.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6VdDRYdrI/AAAAAAAAATk/DZC5uflFlg8/s400/website-header-tower.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358884932944426674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;h3&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kenapa Inquiry Learning?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Kegiatan pada inquiry learning ini bersifat terbuka, bebas, tanpa instruksi. Guru tidak memberikan langkah-langkah yang harus ditempuh siswa. Melainkan siswa yang menemukan sendiri langkah-langkah tersebut. Keuntungan dari metode ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengasah kemampuan analisis siswa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun kemandirian siswa untuk bekerja menurut kapasitasnya sendiri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk kemajemukan, sehingga satu orang dapat menghargai pemikiran dan hasil kerja yang lain. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Poin-poin hikmah ini juga perlu untuk disampaikan kepada siswa dan orang tua, supaya mereka mengetahui pada hal apa mereka telah berkembang. Misalnya, setelah siswa mempresentasikan pekerjaannya sensei menulis laporan kepada orang tua “Hikaru telah berhasil menganalisis foto abstrak, dan mampu membuat gambar serupa tanpa bantuan guru. Pada sesi presentasi dia mendapatkan kritik dari teman-temannya, namun Hikaru menerimanya dengan baik sekali. Hikaru cukup terbuka pada kritik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi disini&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; keuntungan &lt;/span&gt;bagi guru adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Membantu penjabaran prestasi siswa dalam memberikan penjelasan kepada orang tua&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Relatif lebih sedikit dalam persiapan pelajaran&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Namun&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;harus diperhatikan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; bahwa:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kemungkinan hasil kerja siswa berbeda dari apa yang diharapkan oleh guru. Disini guru harus terampil mengapresiasi pekerjaan siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Guru tidak boleh mengintervensi pekerjaan siswa, sebab bila demikian maka tujuan dari pembelajaran inquiry learning menjadi hilang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-710051276462390650?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/710051276462390650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=710051276462390650' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/710051276462390650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/710051276462390650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/07/penerapan-metode-inquiry-learning-pada.html' title='Penerapan Metode Inquiry-Learning pada Pelajaran Desain Grafis'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl7_-DIzSjI/AAAAAAAAAUQ/CU0hGpHhleo/s72-c/100_6967.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-6738476944876232592</id><published>2009-06-24T08:45:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.646-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Integrated Subject - Inquiry Learning</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2jnTLZmzI/AAAAAAAAASE/Fx_FopLn0kU/s1600-h/100_7011.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2jnTLZmzI/AAAAAAAAASE/Fx_FopLn0kU/s200/100_7011.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358619027199073074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;KELAS 5 ITU hanya diisi sekitar 30 siswa, diawali sang sensei yang menempelkan topik di papan tulis. [magnetboard ini benar-benar praktis! kapan ya Indonesia mengganti blackboard dan whiteboardnya dengan ini] kemudian meminta siswa membaca keras materi yang akan dipelajari hari ini. Siswa masing-masing berdiri dan membaca keras, dan suasana seperti sarang lebah.&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kata profesor, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;membaca keras&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; dilakukan agar siswa "bangun". Kadang-kadang transisi antar pelajaran mengalir kurang berirama sehingga siswa masih terbawa pelajaran sebelumnya, tidak siap menerima pelajaran baru, atau singkatnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;gak ngeh&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Tema pelajaran bahasa Jepang kali ini adalah peran lebah dalam penyerbukan bunga, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hmm&lt;/span&gt;... kurang lebih begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lah&lt;/span&gt;, ya. Ampuni bahasa Jepang saya. Setelah itu sensei memberikan kesempatan siswa untuk menggarisbawahi bagian dari naskah bacaan itu yang dianggap penting bagi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira begini, sebagian siswa menganggap bahwa kita perlu menjaga kelestarian lebah &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2jumwx0XI/AAAAAAAAASM/NYZ6G02cyWs/s1600-h/100_7005.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2jumwx0XI/AAAAAAAAASM/NYZ6G02cyWs/s200/100_7005.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358619152715207026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sehingga nantinya lebah itu dapat membantu penyerbukan. Siswa yang lain menganggap kita perlu membantu penyerbukan bunga itu secara langsung. Yang lain menganggap bagian yang penting adalah menjaga lingkungan secara keseluruhan, supaya baik lebah dan bunga dapat terjaga kelestariannya. Katakanlah dari masing-masing pendapat itu diwakili oleh sebuah kelompok, maka sensei mencatat pendapat masing-masing kelompok tersebut. Setelah itu beliau membagikan kertas dimana masing-masing siswa menjelaskan pendapatnya tadi. Setelah 10 menit berlalu, beberapa siswa diminta untuk menyampaikan apa yang telah dituliskannya.&lt;br /&gt;Singkat cerita, tahapan pembelajaran metode ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengemukakan pendapat pribadi&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendiskusikan dalam kelompok&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempresentasikannya&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Metode pembelajaran yang disebut dengan &lt;em&gt;Inquiry Based-Learning &lt;/em&gt;dimana sistem pembelajaran harus didasarkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid, dan guru pada sistem ini memiliki tugas tidak memberikan pengetahuan namun dia memfasilitasi anak untuk dapat menemukan pengetahuan itu sendiri.  Sehingga guru menjadi seorang fasilitator dibandingkan sebagai sumber pengetahuan. (&lt;a href="http://public.kompasiana.com/2009/07/01/inquiry-based-learning-pengembangan-active-learning/"&gt;Ghifti, 2009&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: arial;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2kAZriLjI/AAAAAAAAASU/lw4jT39kqXg/s1600-h/100_7006.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2kAZriLjI/AAAAAAAAASU/lw4jT39kqXg/s200/100_7006.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358619458441195058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: arial;"&gt;Gambar disamping menunjukkan sang sensei tengah memandu siswa merumuskan analisisnya. Sensei sangat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102); font-family: arial;font-size:85%;" &gt;supportive &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: arial;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102); font-family: arial;font-size:85%;" &gt;friendly &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: arial;"&gt;terhadap siswa, sehingga mereka bekerja sama seperti teman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-6738476944876232592?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/6738476944876232592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=6738476944876232592' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/6738476944876232592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/6738476944876232592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/06/integrated-subject-inquiry-learning.html' title='Integrated Subject - Inquiry Learning'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl2jnTLZmzI/AAAAAAAAASE/Fx_FopLn0kU/s72-c/100_7011.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-3936704619579936768</id><published>2009-06-19T21:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.671-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Keceriaan yang Takkan Kau Lupa di SD</title><content type='html'>Kali ini saya datang lagi ke 小学 SD Yashiro sekitar 5 menit naik mobil bersama teman Laos diantar oleh istri Sensei-nya. Ya, selama ini aku menumpang ke kelas teman-temanku untuk bisa nyelonong ke program kunjungan sekolah mereka. Kami diberitahu bahwa di kelas 5 yang akan kami singgahi nanti, mereka akan belajar bahasa Jepang bertopikkan sejenis bunga yang pengembangbiakannya membutuhkan lebah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Tur Sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx537R0lkI/AAAAAAAAAQc/iKZiOe6gf0s/s1600-h/100_6976.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx537R0lkI/AAAAAAAAAQc/iKZiOe6gf0s/s320/100_6976.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349284459121514050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejenak, Sensei mengajak kami berkeliling sebelum kelas dimulai. Di sekolah ini, sepatu harus diganti sandal yang sudah disediakan oleh sekolah di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;genkan &lt;/span&gt;(dekat pintu masuk). Maka di ruang tengah ratusan sepatu siswa disimpan rapi dalam lemari. Ruang tengah ini merupakan muara ke pintu keluar menuju lapangan bermain. Ide menggunakan sandal di dalam gedung sekolah ini tidak saya mengerti betul manfaatnya. Sementara saya menganggapnya untuk membuat semirip mungkin dengan kebiasaan di rumah di Jepang. Kalau ternyata memang begitu, boleh juga untuk mengadaptasikannya di Indonesia dengan lepas sepatu -kemudian nyeker- di sekolah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hitung-hitung &lt;/span&gt;menjaga kebersihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx7zcICQoI/AAAAAAAAAQk/AV_tRM7AAoI/s1600-h/100_6977.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 241px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx7zcICQoI/AAAAAAAAAQk/AV_tRM7AAoI/s320/100_6977.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349286581062746754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kami naik ke lantai 2 dan 3, menengok kondisi kelas per kelas. Di sepanjang lorong, keceriaan tidak pernah pudar. Dinding dan kaca semuanya berhias kreasi siswa. Sensei menjelaskan bahwa di bulan Oktober nanti akan ada lomba musikal yang diikuti oleh seluruh siswa. Sehingga kelas 1 hingga kelas 6 dicampurbaurkan untuk dibagi menjadi beberapa tim dengan komposisi sama. Tim ini merancang bendera tim&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx8I9Bx92I/AAAAAAAAAQs/iqly7pIefN8/s1600-h/100_6985.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx8I9Bx92I/AAAAAAAAAQs/iqly7pIefN8/s200/100_6985.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349286950672136034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(gambar kanan, teman saya sedang menunjuk salah satu bendera kelas)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, sorak yel-yel, dan drama musikal, bahkan sampai menjahit sendiri kostumnya. Saya sudah membayangkan saat event berlangsung, pasti para penjual es dan jajanan berkerubung di pagar sekolah memanfaatkan keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Kegiatan yang Integral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekolah ternyata memiliki sebuah kebun yang disitu murid diajari untuk ikut bercocok tanam, memanen hasilnya, memasak, dan menyajikannya untuk orang tua. Dalam pelajaran ini ilmu alam, bahasa, dan ilmu sosial diajarkan sebagai satu pendidikan life skill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, sayangnya kelas sudah akan dimulai... jalan-jalannya besok lagi ah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-3936704619579936768?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/3936704619579936768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=3936704619579936768' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/3936704619579936768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/3936704619579936768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/06/keceriaan-yang-takkan-kau-lupa-di-sd.html' title='Keceriaan yang Takkan Kau Lupa di SD'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sjx537R0lkI/AAAAAAAAAQc/iKZiOe6gf0s/s72-c/100_6976.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-5698043214092701999</id><published>2009-06-13T23:47:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.610-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Melatih Berpikir Ala 小学　(Sekolah Dasar)</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Beginilah Sekolah&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Jepang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bersama teman dari Brunei, saya mengunjungi sebuah SD di daerah Kato-shi, Jepang. Sebuah kota kecil 50 km dari Kobe, yang kalau ditanyakan ke orang Jepang sekalipun mereka tidak banyak yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSkrib-c-I/AAAAAAAAAQE/WkxXx71-DZ8/s1600-h/100_6870.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSkrib-c-I/AAAAAAAAAQE/WkxXx71-DZ8/s200/100_6870.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347079725481096162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sekolah itu terkesan kecil dan sepi. Beberapa anak yang mungkin pulang lebih awal terlihat bermain diluar, memanggul tas kotak yang khas SD di Jepang, mengenakan boots karena hari itu gerimis mulai pagi. Saat masuk ke dalam, bukan main, semua kesan itu hilang.  Lorong sekolah penuh dengan murid-murid yang mengepel lantai, menyapu, menata lemari, mengelap jendela, mereka sibuk sekali. Beberapa mahasiswa yang magang membantu dan memberi instruksi pada mereka. Rupanya sebagian waktu istirahat tiap hari adalah untuk piket. &lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Gambar disamping adalah suasana seusai piket)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya caranya mereka menyapu! Baiklah, kalau memaksa, mereka tidak-membiarkan-debu meski dibalik lemari! Oke, mungkin saya berlebihan, tapi kalau melihat sendiri, pasti kita akan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Bel Masuk&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Suasana kelas saat pelajaran dimulai sangat ceria, dalam ruangan yang sangat luas Saya bisa melihat ke luar dari jendela tingkat dua yang besar di seluruh dinding, sehingga lapangan bermain sekolah bisa dinikmati dari sini. Meja guru yang berada di belakang kelas seolah membuat guru akan betah berada di sana daripada di ruang guru. Lebih jauh ke belakang, bermacam-macam prakarya siswa, sehingga saya juga mengira kelas itu sekaligus laboratorium IPA mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ueda-sensei memulai pelajaran Matematika hari itu dengan sebuah pertanyaan 6 x ロ = 24 (tepatnya saya tidak begitu paham karena -tentusaja- disajikan dalam 日本語　bahasa Jepang medok). Kemudian menempelkan tiga jawaban yang sudah disiapkannya dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pilihan Jawaban&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Soal A: &lt;/span&gt;4 kantong, masing-masing di dalamnya dimasukkan 6 permen. Berapa jumlah&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSw1o6BAZI/AAAAAAAAAQU/iL0L2QzZ7Qk/s1600-h/100_6877.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSw1o6BAZI/AAAAAAAAAQU/iL0L2QzZ7Qk/s200/100_6877.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347093093155930514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; semua permennya?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Soal B: &lt;/span&gt;Tiap anak membawa 6 permen. Ketika semuanya dikumpulkan, permennya berjumlah 24. Berapa anak yang berkumpul?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Soal C: &lt;/span&gt;6 anak membawa permen, yang waktu mereka menghitung jumlah permennya, semuanya 24, berapa permen masing-masing anak itu?&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sensei menyuruh mereka membaca soal nyaring lalu mencatat. Setelah masing-masing siswa menyalin ke bukunya, sensei menanyakan pilihan dari A-B-C yang paling mewakili soal tadi. Kelas segera terpecah menjadi 3 pendapat, kira-kira 1/3 meyakini A, 1/3 memilih B, dan sisanya C.  Ini yang mencengangkan... ketika sensei bertanya kenapa, siswa berebut mengacungkan tangan. Seorang anak laki-laki ditunjuk, ia berdiri dan ber-argumentasi!!! (Oh ya, apa saya lupa menyebut kalau mereka siswa kelas 3 SD?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSmG7CPujI/AAAAAAAAAQM/aofUPowayIA/s1600-h/100_6875.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 301px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSmG7CPujI/AAAAAAAAAQM/aofUPowayIA/s400/100_6875.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347081295452158514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tak mau kalah dengan kelompok A, anak laki-laki lain dari pemilih B menyusul berdiri dan ikut mengemukakan bagaimana jawabannya lebih mendekati kebenaran. Seorang anak perempuan kelihatannya tidak serius dengan pelajaran, ia memperhatikan kami -para peneliti- yang berdiri tenang, mencatat, serius di belakang kelas. Kehadiran para peneliti ini agak mencolok, karena jumlahnya saya hitung 1, 2, 3, ..10, 20, ...25! Dua puluh lima orang peneliti, dari mahasiswa, peserta training, sampai professor ikut nimbrung di kelas yang diikuti 30 siswa SD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ee... Anak perempuan itu berdiri, maju ke depan kelas, menerangkan jawabannya, membuat coretan-coretan di papan tulis menunjukkan poin argumentasinya. Saya ternganga. Anak lain berkacamata melawan argumentasi itu dengan menceritakan soal sambil menggambar 6 bulatan besar masing-masing diisi 4 bulatan kecil menunjukkan 6 anak dengan 4 permen. Apresiasi kelas yang cukup positif saya yakin sudah melejitkan kepercayaan diri pada penjawab-penjawab itu. Masih ternganga... anak SD-kah mereka? tanya saya retoris, tak dapat dipercaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga jawaban tersebut adalah benar. Sensei sedang mengeksplorasi pendekatan yang dipakai oleh siswa. Seolah terbangun dari tidur, saya membandingkan bahwa metode hafalan yang selama ini saya ajarkan sebenarnya sudah kuno:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Pendidikan kuno hanya mementingkan HASIL, Pendidikan Modern juga mementingkan PROSES.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Hikmah buat Saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu sebabnya di Indonesia kemampuan untuk menyampaikan pendapat sangat terbatas, dan toleransi menerima perbedaan pendapat juga tumpul. Keesokan harinya, saya memberi PR bagi murid bahasa Inggris saya, yang ditanyakan oleh orang tuanya, "Kenapa jawaban dalam PR ini benar semua?" Saya menjawab sambil berfilosofi untuk diri sendiri, "Bahasa adalah keahlian berkomunikasi, penting bagi anak untuk memilih ekspresi mana yang paling bisa mengungkapkan pendapat pribadinya. Benar dan salah itu nanti."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-5698043214092701999?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/5698043214092701999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=5698043214092701999' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/5698043214092701999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/5698043214092701999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/06/melatih-berpikir-ala-sekolah-dasar.html' title='Melatih Berpikir Ala 小学　(Sekolah Dasar)'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SjSkrib-c-I/AAAAAAAAAQE/WkxXx71-DZ8/s72-c/100_6870.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-397148156613621989</id><published>2009-05-17T05:33:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.633-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Stres Menjelang Ujian Nasional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://d.yimg.com/hb/xp/antr/20090623/20/2002187619-siswa-smp-berprestasi-tidak-lulus-un.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 174px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6UMaxpqPI/AAAAAAAAATY/2IxDMjf1p08/s200/2002187619-siswa-smp-berprestasi-tidak-lulus-un.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358883547684382962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap menjelang ujian nasional, para siswa dilanda stres yang luar biasa. Tidak hanya karena peningkatan aktivitas belajar, tetapi yang paling berat adalah beban psikologis yang diletakkan di pundak mereka; yakni apakah mereka akan lulus atau tidak. Seolah pertanyaan ini menentukan harga diri mereka, yang dari hasil ujian tersebut masyarakat akan menentukan label “pintar” bagi yang berhasil dan “bodoh” (atau bahkan “tidak berguna”) bagi yang gagal, atau paling tidak siswa akan dihantui perasaan semacam ini.&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;Kekhawatiran ini nampaknya tidak hanya menginfeksi siswa, tetapi juga mengepidemi pada orang tua siswa dan sekolahnya. Hal ini rupanya mendorong orang tua untuk mendaftarkan putra-putrinya ke tempat kursus sepulang sekolahnya, membuat jam lembur setelah belajarnya di sekolah. Hal mana yang ditangkap sebagai peluang bisnis yang tak akan kekurangan pasar. Tak jauh beda dengan apa yang terjadi di sekolah. Kegiatan belajar mengajar menjadi lebih spesial, meski kadang diskriminatif, dengan dibentuknya kelas-kelas khusus, pelajaran-pelajaran tambahan, semua menambah ketegangan menjelang unas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terkadang maksud baik menampilkan hitungan mundur di halaman depan sekolah dirasakan siswa di sekolah berkualitas rendah sebagai ancaman kegagalan. Menyadari bahwa sulit bagi siswa-siswa tersebut mengejar ketertinggalannya, maka semakin mendekat ke hari-H, mereka banyak yang keluar jalur. Cara yang kemudian banyak ditoleransi oleh siswa adalah dengan berbuat “membantu orang tua”, dengan tidak jujur alias curang: mencontek. Bahkan cenderung ditanamkan oleh pihak sekolah sendiri dengan pesan-pesan eufemis “bantulah temanmu” kepada siswa yang lebih pandai di kelas dan pesan “jangan terlalu ketat, bijaksanalah” kepada pengawas ujian yang kita semua tahu maksudnya apa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diakui atau tidak unas-lah yang menjadi pemicu semua efek berantai tadi. &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jika ini&lt;/span&gt; yang menjadi dampak mayor ujian nasional, maka sudah seharusnya kita bisa menilai bagaimana efektivitas mekanisme standarisasi mutu pelajar di Indonesia ini. Berkat unas, sekolah gagal menjadi instrumen pendidikan, karena siswa tidak lagi menjadi subyek, melainkan obyek &lt;em&gt;m&lt;/em&gt;enderita. Dengan kata lain yang mungkin terdengar kasar, siswa menjadi korban ambisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbeda halnya, &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;jika bukan&lt;/span&gt; apa yang telah diuraikan di atas yang terjadi, maka bolehlah kita melanjutkan penyelenggaraan ujian-ujian nasional berikutnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://gilig.wordpress.com/"&gt;[mencari artikel lain?]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-397148156613621989?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/397148156613621989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=397148156613621989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/397148156613621989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/397148156613621989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/05/stres-menjelang-ujian-nasional.html' title='Stres Menjelang Ujian Nasional'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6UMaxpqPI/AAAAAAAAATY/2IxDMjf1p08/s72-c/2002187619-siswa-smp-berprestasi-tidak-lulus-un.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-7068071702907794021</id><published>2009-05-03T23:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.622-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Bagaimana berkomunikasi saat anak marah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6Wbn9RIJI/AAAAAAAAATs/yjBDTcvLczA/s1600-h/marah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6Wbn9RIJI/AAAAAAAAATs/yjBDTcvLczA/s200/marah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358886007944061074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seringkali orang tua merasa dilematis menyikapi tingkah laku anak. Oleh karena itu perlu kita berbagi ilmu untuk memudahkan para orang tua mendidik anaknya di rumah. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru di sekolah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(1) Pisahkan mereka dari yang lain (teman, saudara, orang)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Anak memiliki rasa malu, bila mereka merasa dipermalukan maka anak akan semakin marah dan tidak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(2) Berjongkoklah, duduk setara dengannya, pandang matanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Saat kita berbicara serius sambil berdiri, anak merasa bahwa kita adalah atasan, kata-kata kita adalah perintah, yang boleh jadi akan disimpulkan sebagai ancaman atau penolakan terhadap keinginannya. Maka perlakukan dia sebagai teman dimana kita siap mendengarkan engan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(3) BILA dia tidak terkendali (berteriak, meronta, memukul) peringatkan dengan tegas "Hen-ti-kan!"&lt;/span&gt; jangan dengan berteriak, jangan membentak, tapi dengan nada rendah yang tegas dan jelas. Sampaikan peringatan bahwa bila dia terus tidak terkendali akan didudukkan di "kursi nakal". Peringatan sangat penting untuk memberi ruang pada anak untuk mengoreksi perbuatannya sendiri. &lt;em&gt;Jangan memberi hukuman tiba-tiba&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(4) BILA dia tadi berbuat salah, beritahu dia bahwa anda (dan korban, saudara/teman-teman yang lain) akan mendiamkannya selama 5 menit, dan dia harus duduk di tempat "kursi nakal"&lt;/span&gt; kalau ingin kembali berkumpul dan bermain lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(4.a)&lt;/span&gt; BILA anak berusaha kabur dari kursi nakal, ambil dia, kembalikan ke kursi itu berapa kalipun dia mencoba. &lt;em&gt;Ingat! Orang tua/guru harus menjadi pemimpin &amp;amp; pengatur. Anak harus belajar menghormati aturan&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(4.b)&lt;/span&gt; Setelah 5 menit selesai, datang pada anak (gaya no. 2), katakan padanya dimana letak kesalahannya, dan apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan itu (minta maaf, berjanji tidak mengulangi lagi).Perhatikan cara meminta maaf anak supaya ia benar-benar sopan dalam meminta maaf. &lt;em&gt;Ingat, bahwa cara yang dia lakukan ini nantinya akan dilakukannya di luar rumah/sekolah&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(4.c)&lt;/span&gt; Hargai pengakuannya, peluklah dia, cium dia, katakan betapa bangganya anda terhadapnya karena telah berani meminta maaf. Cari ungkapan baru, jangan klise, agar anak benar-benar merasa ini pujian dari hati.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt;[*]&lt;/span&gt; BILA anak tidak berbuat salah, lewati langkah 4 / 4.a / 4.b ini dan langsung ke langkah 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(5)&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tanyakan apa yang membuat dia marah, "Kenapa sayangku? Ada apa?"&lt;/span&gt; Dengarkan sepenuhnya, dan tetaplah bersikap adil. Karena &lt;em&gt;keadilan itu dekat dengan taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(6)&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bila anda mampu memberi solusi, usulkanlah, dan bantulah anak mewujudkan solusi itu.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&gt; Maksudnya mengusulkan pada anak, adalah memberikan padanya kebebasan untuk memilih, melatihnya supaya berpikir menimbang akibatnya. Misalnya, "Kalau kakak yang memotong kuenya, adik yang memilih potongannya ya... nanti ibu yang menghias kue-kuenya." atau "Kalau kakak mau mainan yang itu, bisa nggak kakak meminjami mainan yang disukai adik buat mainan adik?" &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&gt; Kalau anda tidak mampu memberikan solusi, sampaikan terus terang, dan janjikan kepadanya anda akan berusaha untuk terus menolong. Misalnya, "Ibu juga tidak tahu caranya, nanti kalau ayah datang kita tanya sama-sama yuk." Keterusterangan orang tua mengajarkan anak bahwa mereka tidak perlu takut akan kekurangannya, akan kritik, dan mengajaknya mau berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(7)&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jangan lupa, setiap usaha anak menuju yang lebih baik selalu pantas untuk dirayakan,&lt;/span&gt; meski hanya dengan membacakan dongeng saat hendak tidur malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;* Mudah-mudahan bermanfaat *&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Mohon saran &amp;amp; kritiknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-7068071702907794021?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/7068071702907794021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=7068071702907794021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/7068071702907794021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/7068071702907794021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/05/bagaimana-berkomunikasi-saat-anak-marah.html' title='Bagaimana berkomunikasi saat anak marah'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6Wbn9RIJI/AAAAAAAAATs/yjBDTcvLczA/s72-c/marah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1161792855934805334.post-4290369681626404924</id><published>2009-01-26T14:36:00.000-08:00</published><updated>2009-07-16T03:23:01.597-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah'/><title type='text'>Mampir di 小学 (Sekolah Dasar)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX48GmlVUjI/AAAAAAAAAK0/IASBZZzcCCw/s1600-h/Image238.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295736295968297522" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX48GmlVUjI/AAAAAAAAAK0/IASBZZzcCCw/s200/Image238.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bareng-bareng teman se-KISC mengunjungi sebuah sekolah dasar di dekat Kobe University. Tempatnya indah, menanjak di gunung Rokko. Lingkungannya sunyi, seolah kami sedang piknik ke gunung saja.&lt;br /&gt;Ketika sampai di gerbang sekolah, perwakilan anak-anak SD memegang nama kami kayak menyambut tamu di bandara. Yang membawa nama saya adalah dua orang dari kelas 4-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX49CzHeH2I/AAAAAAAAALE/s8baASLhX4w/s1600-h/SANY0051.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295737330124857186" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX49CzHeH2I/AAAAAAAAALE/s8baASLhX4w/s200/SANY0051.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya di bawa ke kelasnya, pas makan siang. Tapi karena Saya tidak tahu makanannya apa maka sejak awal saya bilang kalau membawa &lt;em&gt;obento&lt;/em&gt;, makan siang sendiri: roti coklat... hehehe. Mereka makan mie, semangkuk kacang, dan sepiring roti. Minumnya susu cair kotak. Suasananya ceria sekali, anak-anak antusias, saya pun sangat menyukai suasana ini. Ada beberapa anak yang berani sampai nanya-nanya, padahal selama ini orang jepang sangat pemalu terhadap orang asing. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX475Oe_2VI/AAAAAAAAAKs/Djie2ux2faA/s1600-h/DSC08474.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295736066160974162" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX475Oe_2VI/AAAAAAAAAKs/Djie2ux2faA/s200/DSC08474.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Waktu istirahat acaranya bersih-bersih kelas, bangku &amp;amp; kursi dipinggirkan, terus sampah-sampah diambil, dan seorang anak mengajakku ke pojok kelas, dan memberiku... sapu! Hahaha, aku disuruh menyapu. Dia mengajariku cara memegang sapu, menyapu, asyik sekali. Sampai bersih kami kemudian menata kembali kelas seperti sedia kala. Di luar anak-anak lain membersihkan lorong kelas, dan ada juga yang membersihkan WC. Seorang anak datang ke senseinya dan melaporkan hasil kerjanya, dia meminta senseinya mengecek hasil kerjanya. Sangat profesional. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX49a45k8nI/AAAAAAAAALM/r9fejV7_vs8/s1600-h/DSC08490.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295737743994057330" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX49a45k8nI/AAAAAAAAALM/r9fejV7_vs8/s200/DSC08490.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah itu saya diajak sekelompok anak berkeliling, menunjukkan dari kelas ke kelas. Semangat antusiasme mereka membuat saya berlari mengikuti mereka yang berburu menjelaskan sekolahnya. Sayang tidak sempat main di halaman karena keburu masuk kelas kembali. &lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;（Lihat fotonya Islami-san sedang bermain lompat tali bersama mereka, dia pikir mereka benar-benar temannya!)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt; &lt;/span&gt;Di kelas saya dan seorang mahasiswa dari Korea dipersilakan mengenalkan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Waktu dhuhur berlalu setengahnya, jadi minta ijin sensei untuk sholat di lorong, gak jadi... karena posisi kiblat mengharuskan saya melintang dan menghalangi orang lewat, jadi saya minta jin untuk sholat di dalam kelas di pojok belakang. Pas takbir, saya baru sadar bahwa sensei tidak akan memulai kelas tanpa saya, jadi mereka menunggu. Seusai salam, kanan saya menghadap tumpukan tas-tas murid, salam ke kiri saya memandang seluruh isi kelas sedang memandangi saya, mereka menonton "pertunjukan sholat". Sumimasen... sumimasen... (maaf... maaf...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX48QQG7LEI/AAAAAAAAAK8/LIXzWZ0p4gM/s1600-h/Image253.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295736461733866562" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX48QQG7LEI/AAAAAAAAAK8/LIXzWZ0p4gM/s200/Image253.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Si Korea mendapat kesempatan pertama, dia lumayan lancar berbahasa Jepangnya, saya ... kacau. Untung sensdeinya bisa bahasa Inggris... sedikit. Untungnya lagi minggu lalu saya ada tugas mempresentasikan negara kepada teman sekelas, jadi agak ingat-ingat sedikit. Ketika saya memberikan kesempatan bertanya, banyak yang mengacungkan jari. Ada yang tanya binatang yang paling berbahaya di indonesia apa, tempat yang terkenal dimana, makanannya apa, macam-macam. Karena saya sengaja membawa angklung, maka saya bagi-bagikan, lucu juga, sebab mereka menggoyangkannya seperti mengocok pop ice. Wah, suasana jadi rame! Waktu berlalu sekitar 30 menit seperti angin, kami pamit dan foto-fotoan. Rasanya pingin kembali lagi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1161792855934805334-4290369681626404924?l=sekolahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sekolahislam.blogspot.com/feeds/4290369681626404924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1161792855934805334&amp;postID=4290369681626404924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/4290369681626404924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1161792855934805334/posts/default/4290369681626404924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sekolahislam.blogspot.com/2009/01/mampir-di-sekolah-dasar.html' title='Mampir di 小学 (Sekolah Dasar)'/><author><name>gilig</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10230880300404399735</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/Sl6S8lHO0YI/AAAAAAAAASs/H0_afZTnoeU/S220/100_6967.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3l_4yLg6Sww/SX48GmlVUjI/AAAAAAAAAK0/IASBZZzcCCw/s72-c/Image238.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
