Di awal kemerdekaan Indonesia semangat jihad melawan penjajah begitu kental. Seruan untuk mengusir penjajah berkobar dari pesantren. Kalangan santri menjadi pelopor dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak heran bila di awal berdirinya negara Indonesia, berbagai seruan yang mendukung untuk dibentuknya negara Islam bergaung cukup signifikan. Ini dibuktikan dengan besarnya jumlah dukungan pada partai politik Islam yang mendukung konsep negara Islam. Masyumi, NU, PSII dan semua kaum muslimin yang berafiliasi pada santri saat itu mendukung gagasan negara Islam.
Sayangnya kaum Muslimin miskin politikus maupun negarawan, sehingga sikap akomodatif dan toleransinya dalam pemerintahan dimanfaatkan segelintir orang untuk membelokkan kemerdekaan ke arah demokrasi. Meski tokoh nasional seperti Natsir, Syafruddin, Roem, dan beberapa tokoh Masyumi pada awal kemerdekaan itu hampir tidak ada yang menulis demokrasi liberal. Mereka tahu apa bahaya pemikiran demokrasi liberal. Namun, mengingat lemahnya kekuatan politik kaum Muslimin, mereka terpaksa menerima label demokrasi selama mengadopsi Islam.
Meski demikian, di bawah tekanan orde lama, kekuatan Islam mengalami pergeseran setelah transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru, khususnya pada pemikir liberal seperti Nurcholish Madjid, Dawam Raharjo, dan lain-lain. Mereka menyerang paradigma politik Islam, dengan label-label demonologis. Meski sebetulnya hal itu sudah dimulai oleh Munawir Sadjali. Pada tahun 50-an dia menulis risalah kecil yang menolak negara Islam. Sebagai gantinya, para pengusung liberalisme ini gencar menggembar-gemborkan euforia demokrasi dari barat.
Guna menggeser gerakan syariah, Luthfi Assyaukanie mendikte bahwa demokrasi tidak akan pernah berjalan kecuali di atas platform negara sekuler: negara yang betul-betul memisahkan urusan agama dengan negara. Sehingga peran Islam dalam mengatur hukum pemerintahan perlu dimarjinalkan. Setelah tahun 80-an, dua tokoh liberal Cak Nur dan Gus Dur mulai mengkritisi negara yang terlalu ikut campur dalam urusan agama.
Meski ide sekulerisme ini banyak menimbulkan kontroversi, mengingat masih kuatnya akar budaya santri di tingkat akar rumput, namun media massa mampu membuat mereka ditokohkan dan terpublikasi. Luthfi mengklaim, “Sama seperti orang-orang Masyumi dan kaum santri pada tahun 50-an belum bisa menerima demokrasi, dan tidak bisa menolak konsep negara Islam. Sekarang ini hampir tidak ada orang yang mau menerima negara Islam. Artinya berbalik 180 derajat.”
Keberhasilan gerakan liberal dalam menggeser ide Islam ini tak luput dari dukungan media massa dan beberapa organisasi penyokong dana dari Barat seperti TAF dan universitas-universitas yang menyediakan beasiswa bagi Muslim yang berawasan liberal. Di Indonesia, Adian Husaini mengkategorikan beberapa modus gerakan liberalisme, mulai yang disebut sebagai “eceran”, yakni melalui media massa, maupun yang “partai” yakni tersistem dalam perguruan tinggi. Berarti tahapan liberalisasi Islam sudah hampir mencapai klimaksnya: sekulerisme.
Seragam adalah hantu bagi wali murid baru di awal tahun ajaran. Pengeluarannya yang bisa mencapai 1/4 dari total anggaran pendidikan anak. Tulisan berikut ini berusaha menimbang perlunya seragam sekolah bagi siswa TK hingga SMA. Mari kita simak artikel di bawah ini:
Artikel: Penghapusan Seragam Sekolah
Foto disamping Apa pentingnya seragam wisuda bagi siswa TK?
Mari kita kritisi. Tanggapan berikut ini adalah terhadap artikel tersebut, dengan mempertimbangkan faktor siswa secara luas, mulai TK hingga Mahasiswa. Poin dibuat berurutan sesuai dengan nomor urut pada artikel di atas.
Tanggapan Saya
Pertama, Seragam yang bermacam-macam jenisnya memberatkan bagi keluarga miskin. Di TK anak saya, misalnya, seragam sekolahnya saja mencapai 300.000 rupiah (tahun 2008). Sementara gaji bulanan ayahnya yang guru adalah 500.000 rupiah. Belum ditambah dengan biaya yang lain yang di total mencapai 1 juta, itu pun setelah didiskon. Saya sampai bersungut-sungut...Kedua, Seringkali siswa disibukkan dengan masalah seragam. Seragam kotor, masih basah, tereselip entah kemana, membuat siswa tidak dapat berangkat sekolah. Kalau dipaksa ke sekolah dengan seragam berbeda, dia akan merasa minder sehingga mempengaruhi kualitas belajarnya. Saat mengetahui seragam yang dipakainya keliru, giliran anak saya bersungut-sungut...
Ketiga dan keempat, kerapian dan keindahan tidak cuma bisa ditampilkan dengan seragam. Dengan pakaian bebas pun seorang siswa bisa tampil rapi dan elegan. Secara massal, memang dengan berseragam lebih indah dipandang. Misalnya saat baris-berbaris pada waktu upacara. Tetapi upacara hanya sekali dalam seminggu, dan itupun hanya beberapa jam. Lagipula, apa anda tidak pernah mendapati kalau seragam sekolah tertentu desainnya kuno?
Kelima, kebanggaan orang tua ini terhadap anaknya yang berangkat sekolah atau pada seragamnya? Perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan klaim ini.
Keenam, secara fisik boleh jadi begitu, meski sebenarnya lebih tepat disebut keseragaman. Sedangkan persatuan dan kesatuan itu adalah hal yang intrinsik, sehingga sekali lagi perlu dibuktikan bagaimana perasaan siswa saat diberikan pilihan antara berseragam sekolah atau berpakaian bebas (demi obyektivitas, penelitian sebaiknya juga meliputi mahasiswa).Anda pernah menonton TV dong, bagaimana senioritas terkadang membuat mereka merasa berhak menganiaya para juniornya.
Ketujuh, saya tidak melihat pentingnya membedakan jenjang pendidikan dari TK hingga SMA. Kalau identitas itu diperlukan, mungkin untuk mengetahui identitas sekolahnya saja.
Kedelapan, saya setuju dengan pemantauan ini. Dalam kasus masuknya orang asing ke lingkungan sekolah ini juga beralasan. Hanya saja perlu dibandingkan dengan kampus, dimana orang umum bebas keluar masuk lingkungan sekolah sementara keamanan bisa tetap dijaga.
Kesembilan, logikanya agak aneh. Bagaimana dengan mahasiswa, apakah dengan tanpa
berseragam mereka akan merasa liar? Perlu dilakukan penelitian untuk mengukur pengaruh seragam terhadap penurunan pelanggaran susila.Mahasiwa bisa tampil rapi dan disiplin meski tanpa seragam
Kesepuluh, saya tidak melihat signifikansi dari poin tersebut.
Keuntungan Bila Tanpa Seragam
Pertama, hemat, sehingga terjangkau oleh rakyat miskinKedua, tidak membebani psikologi siswa pada hal yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan. Mereka perlu fokus kepada pelajaran, tidak perlu dialihkan kepada hal lain yang tidak penting.
Ketiga, keterbukaan. Siswa dapat tampil apa adanya, sesuai dengan karakter dan kesukaan mereka. Guru dapat melihat bagaimana masing-masing gaya siswa yang sebenarnya sehingga dapat memberikan penilaian tentang hal itu. Misalnya bila siswa suka mengenakan baju yang terlalu mencolok, guru bisa mendekati dan menyarankan sesuatu untuk kebaikan siswa.
Keempat, keindahan. Siswa dapat tampil serapi atau semenarik mungkin (dalam batas kesopanan). Ini adalah hal alamiah yang dimiliki oleh seorang anak muda.
Kelima, memunculkan toleransi. Siswa dapat tampil sesuai dengan kebiasaan/ budaya keluarganya, sehingga semua siswa akan dapat melihat kenyataan bahwa masing-masing itu berbeda, dan mereka akan berlatih untuk menghargai perbedaan. Bila ada siswa yang kurang mampu, maka tentu akan dapat dikenali, disini siswa yang lain dapat segera memberikan respon positif misalnya berupa bantuan.
Keenam, menciptakan obyektivitas. Ketika berbaur dengan banyak siswa yang lain, seorang tidak akan dapat dibedakan mana yang senior dan junior. Maka yang dihargai bukan lagi penampilannya, melainkan kualitas pribadinya.
Kesimpulan
Menimbang baik dan buruknya pemberlakuan seragam di sekolah, maka saya berpendapat:- Jika sekolah mengadakan seragam, hendaknya memperhatikan kondisi ekonomi siswanya. Misalnya dengan membantu siswa yang kurang mampu.
- Seragam atau tidak, ukuran kesopanan dan kerapian hendaknya diukur dari standar Islam. Bila tidak akan terjadi perbedaan yang mencolok dan tidak perlu. Misalnya, betapa kapitalistiknya aturan "dilarang memakai sandal di kampus" lantaran dianggap tidak sopan (?) sementara yang berbaju ketat dan "kekong" (kethok bokong -maaf) dibiarkan berlalu lalang.
Nah, sekarang giliran anda mengkritisi...
Mata pelajaran desain grafis seperti Adobe Photoshop boleh jadi disangka sangat teknis dimana untuk menghasilkan sebuah gambar garis, misalnya, seorang desainer cukup menarik pena dari satu titik ke titik lainnya. Tetapi dengan kekayaan fasilitas filter (menu) pada software desain grafis, seorang guru dapat mengajak siswa untuk menganalisa langkah-langkah baru yang tentu akan menghasilkan variasi berbeda.
Ini berangkat sejak dulu pernah saya tidak setuju dengan definisi garis yang diberikan oleh guru gambar saya, yakni “garis adalah kumpulan titik-titik yang rapat dan sejajar”. Sebab saat saya membuat garis saya tidak sedang membuat banyak titik, tul… tul… tul… tetapi satu tarikan reeet…! Dari sini saya berpikir bahwa garis itu dapat difenisikan bagaimana saja tergantung bagaimana cara orang membuatnya.
Oke, mari kita mulai saja pelajaran ini…
Tingkat Awal: Mandiri
Berikan beberapa file gambar (text layer, text rasterize, dots, foto, dsb.)- Minta siswa untuk mengaplikasikan salah satu filter pada semua gambar tersebut
- Tanyakan kepada siswa apa dampak filter tersebut terhadap gambar
- Minta siswa untuk mendefinisikan fungsi filter itu sendiri secara detail. Pendapat yang paling mendekati dengan dampak yang dihasilkannya adalah yang paling dapat diterima. Boleh jadi merupakan kompilasi dari beberapa pendapat.
Tingkat Lanjut: Berkelompok
- Tunjukkan sebuah gambar hasil manipulasi sederhana dari Adobe Photoshop disertai dengan gambar aslinya,
- Tanyakan kepada siswa apa yang telah dilakukan pada foto aslinya sehingga menjadi gambar manipulasi
- Ajak siswa untuk mencoba mempraktekkan pendapatnya tadi
- Di akhir percobaan, minta siswa berkomentar sekali lagi terhadap pendapat pertamanya tadi. Siswa lain akan memiliki pendapat dan pengalaman yang berbeda, mereka dapat berbagi untuk menciptakan gambar yang paling mendekati dengan gambar hasil manipulasi.
Tingkat Mahir: Individu/Berkelompok
- Minta siswa untuk mengerjakan satu proyek dengan memberikan gambaran terhadap hasil akhirnya. Misalnya, poster tentang demonstrasi.
- Minta siswa membuat rancangan perkiraan desainnya. Misalnya siswa akan membuat kesan berdarah, kekerasan, konflik, warna kusam, dan semacamnya. Guru hanya mengeksplorasi seberapa kreatifkah siswa dalam menambahkan asesori untuk menambah citra rasa desainnya. Guru tidak perlu menyarankan siswa untuk menambahkan efek api, sebab itu dapat mencampuri imajinasi siswa.
- Minta siswa bekerja kelompok dalam waktu yang cukup. Bila dalam beberapa pertemuan, maka minta siswa untuk membagi pekerjaan menur ut elemen-elemen yang dibutuhkan. Tetapi mereka harus membicarakan konsepnya bersama-sama.
- Setelah selesai, siswa menunjukkan hasil kerjanya, menyampaikan alasannya memilih desain tersebut, menjelaskan filosofinya, dan teknik pembuatannya. Sementara siswa yang lain memberikan komentar atas kesannya, menyarankan teknik tertentu atau tambahan elemen yang lain.
Kenapa Inquiry Learning?
Kegiatan pada inquiry learning ini bersifat terbuka, bebas, tanpa instruksi. Guru tidak memberikan langkah-langkah yang harus ditempuh siswa. Melainkan siswa yang menemukan sendiri langkah-langkah tersebut. Keuntungan dari metode ini adalah:- Mengasah kemampuan analisis siswa
- Membangun kemandirian siswa untuk bekerja menurut kapasitasnya sendiri
- Membentuk kemajemukan, sehingga satu orang dapat menghargai pemikiran dan hasil kerja yang lain.
Poin-poin hikmah ini juga perlu untuk disampaikan kepada siswa dan orang tua, supaya mereka mengetahui pada hal apa mereka telah berkembang. Misalnya, setelah siswa mempresentasikan pekerjaannya sensei menulis laporan kepada orang tua “Hikaru telah berhasil menganalisis foto abstrak, dan mampu membuat gambar serupa tanpa bantuan guru. Pada sesi presentasi dia mendapatkan kritik dari teman-temannya, namun Hikaru menerimanya dengan baik sekali. Hikaru cukup terbuka pada kritik.”
Jadi disini keuntungan bagi guru adalah:
- Membantu penjabaran prestasi siswa dalam memberikan penjelasan kepada orang tua
- Relatif lebih sedikit dalam persiapan pelajaran
- Kemungkinan hasil kerja siswa berbeda dari apa yang diharapkan oleh guru. Disini guru harus terampil mengapresiasi pekerjaan siswa.
- Guru tidak boleh mengintervensi pekerjaan siswa, sebab bila demikian maka tujuan dari pembelajaran inquiry learning menjadi hilang.
KELAS 5 ITU hanya diisi sekitar 30 siswa, diawali sang sensei yang menempelkan topik di papan tulis. [magnetboard ini benar-benar praktis! kapan ya Indonesia mengganti blackboard dan whiteboardnya dengan ini] kemudian meminta siswa membaca keras materi yang akan dipelajari hari ini. Siswa masing-masing berdiri dan membaca keras, dan suasana seperti sarang lebah.
Kata profesor, membaca keras dilakukan agar siswa "bangun". Kadang-kadang transisi antar pelajaran mengalir kurang berirama sehingga siswa masih terbawa pelajaran sebelumnya, tidak siap menerima pelajaran baru, atau singkatnya gak ngeh.Tema pelajaran bahasa Jepang kali ini adalah peran lebah dalam penyerbukan bunga, hmm... kurang lebih begitu lah, ya. Ampuni bahasa Jepang saya. Setelah itu sensei memberikan kesempatan siswa untuk menggarisbawahi bagian dari naskah bacaan itu yang dianggap penting bagi siswa.
Kira-kira begini, sebagian siswa menganggap bahwa kita perlu menjaga kelestarian lebah
Singkat cerita, tahapan pembelajaran metode ini adalah:
- Mengemukakan pendapat pribadi
- Mendiskusikan dalam kelompok
- Mempresentasikannya
Kali ini saya datang lagi ke 小学 SD Yashiro sekitar 5 menit naik mobil bersama teman Laos diantar oleh istri Sensei-nya. Ya, selama ini aku menumpang ke kelas teman-temanku untuk bisa nyelonong ke program kunjungan sekolah mereka. Kami diberitahu bahwa di kelas 5 yang akan kami singgahi nanti, mereka akan belajar bahasa Jepang bertopikkan sejenis bunga yang pengembangbiakannya membutuhkan lebah tertentu.
Tur SekolahSejenak, Sensei mengajak kami berkeliling sebelum kelas dimulai. Di sekolah ini, sepatu harus diganti sandal yang sudah disediakan oleh sekolah di genkan (dekat pintu masuk). Maka di ruang tengah ratusan sepatu siswa disimpan rapi dalam lemari. Ruang tengah ini merupakan muara ke pintu keluar menuju lapangan bermain. Ide menggunakan sandal di dalam gedung sekolah ini tidak saya mengerti betul manfaatnya. Sementara saya menganggapnya untuk membuat semirip mungkin dengan kebiasaan di rumah di Jepang. Kalau ternyata memang begitu, boleh juga untuk mengadaptasikannya di Indonesia dengan lepas sepatu -kemudian nyeker- di sekolah. Hitung-hitung menjaga kebersihan.
Kami naik ke lantai 2 dan 3, menengok kondisi kelas per kelas. Di sepanjang lorong, keceriaan tidak pernah pudar. Dinding dan kaca semuanya berhias kreasi siswa. Sensei menjelaskan bahwa di bulan Oktober nanti akan ada lomba musikal yang diikuti oleh seluruh siswa. Sehingga kelas 1 hingga kelas 6 dicampurbaurkan untuk dibagi menjadi beberapa tim dengan komposisi sama. Tim ini merancang bendera tim
(gambar kanan, teman saya sedang menunjuk salah satu bendera kelas), sorak yel-yel, dan drama musikal, bahkan sampai menjahit sendiri kostumnya. Saya sudah membayangkan saat event berlangsung, pasti para penjual es dan jajanan berkerubung di pagar sekolah memanfaatkan keramaian.
Kegiatan yang Integral
Sekolah ternyata memiliki sebuah kebun yang disitu murid diajari untuk ikut bercocok tanam, memanen hasilnya, memasak, dan menyajikannya untuk orang tua. Dalam pelajaran ini ilmu alam, bahasa, dan ilmu sosial diajarkan sebagai satu pendidikan life skill.
Wah, sayangnya kelas sudah akan dimulai... jalan-jalannya besok lagi ah!
Beginilah Sekolah Jepang
Bersama teman dari Brunei, saya mengunjungi sebuah SD di daerah Kato-shi, Jepang. Sebuah kota kecil 50 km dari Kobe, yang kalau ditanyakan ke orang Jepang sekalipun mereka tidak banyak yang tahu.Sekolah itu terkesan kecil dan sepi. Beberapa anak yang mungkin pulang lebih awal terlihat bermain diluar, memanggul tas kotak yang khas SD di Jepang, mengenakan boots karena hari itu gerimis mulai pagi. Saat masuk ke dalam, bukan main, semua kesan itu hilang. Lorong sekolah penuh dengan murid-murid yang mengepel lantai, menyapu, menata lemari, mengelap jendela, mereka sibuk sekali. Beberapa mahasiswa yang magang membantu dan memberi instruksi pada mereka. Rupanya sebagian waktu istirahat tiap hari adalah untuk piket. (Gambar disamping adalah suasana seusai piket)
Jangan tanya caranya mereka menyapu! Baiklah, kalau memaksa, mereka tidak-membiarkan-debu meski dibalik lemari! Oke, mungkin saya berlebihan, tapi kalau melihat sendiri, pasti kita akan malu.
Bel Masuk
Suasana kelas saat pelajaran dimulai sangat ceria, dalam ruangan yang sangat luas Saya bisa melihat ke luar dari jendela tingkat dua yang besar di seluruh dinding, sehingga lapangan bermain sekolah bisa dinikmati dari sini. Meja guru yang berada di belakang kelas seolah membuat guru akan betah berada di sana daripada di ruang guru. Lebih jauh ke belakang, bermacam-macam prakarya siswa, sehingga saya juga mengira kelas itu sekaligus laboratorium IPA mereka.
Ueda-sensei memulai pelajaran Matematika hari itu dengan sebuah pertanyaan 6 x ロ = 24 (tepatnya saya tidak begitu paham karena -tentusaja- disajikan dalam 日本語 bahasa Jepang medok). Kemudian menempelkan tiga jawaban yang sudah disiapkannya dari rumah.
Pilihan Jawaban
- Soal A: 4 kantong, masing-masing di dalamnya dimasukkan 6 permen. Berapa jumlah
semua permennya?
- Soal B: Tiap anak membawa 6 permen. Ketika semuanya dikumpulkan, permennya berjumlah 24. Berapa anak yang berkumpul?
- Soal C: 6 anak membawa permen, yang waktu mereka menghitung jumlah permennya, semuanya 24, berapa permen masing-masing anak itu?
Ee... Anak perempuan itu berdiri, maju ke depan kelas, menerangkan jawabannya, membuat coretan-coretan di papan tulis menunjukkan poin argumentasinya. Saya ternganga. Anak lain berkacamata melawan argumentasi itu dengan menceritakan soal sambil menggambar 6 bulatan besar masing-masing diisi 4 bulatan kecil menunjukkan 6 anak dengan 4 permen. Apresiasi kelas yang cukup positif saya yakin sudah melejitkan kepercayaan diri pada penjawab-penjawab itu. Masih ternganga... anak SD-kah mereka? tanya saya retoris, tak dapat dipercaya!
Ketiga jawaban tersebut adalah benar. Sensei sedang mengeksplorasi pendekatan yang dipakai oleh siswa. Seolah terbangun dari tidur, saya membandingkan bahwa metode hafalan yang selama ini saya ajarkan sebenarnya sudah kuno:
Pendidikan kuno hanya mementingkan HASIL, Pendidikan Modern juga mementingkan PROSES.Hikmah buat Saya
Mungkin itu sebabnya di Indonesia kemampuan untuk menyampaikan pendapat sangat terbatas, dan toleransi menerima perbedaan pendapat juga tumpul. Keesokan harinya, saya memberi PR bagi murid bahasa Inggris saya, yang ditanyakan oleh orang tuanya, "Kenapa jawaban dalam PR ini benar semua?" Saya menjawab sambil berfilosofi untuk diri sendiri, "Bahasa adalah keahlian berkomunikasi, penting bagi anak untuk memilih ekspresi mana yang paling bisa mengungkapkan pendapat pribadinya. Benar dan salah itu nanti."
Setiap menjelang ujian nasional, para siswa dilanda stres yang luar biasa. Tidak hanya karena peningkatan aktivitas belajar, tetapi yang paling berat adalah beban psikologis yang diletakkan di pundak mereka; yakni apakah mereka akan lulus atau tidak. Seolah pertanyaan ini menentukan harga diri mereka, yang dari hasil ujian tersebut masyarakat akan menentukan label “pintar” bagi yang berhasil dan “bodoh” (atau bahkan “tidak berguna”) bagi yang gagal, atau paling tidak siswa akan dihantui perasaan semacam ini.
Kekhawatiran ini nampaknya tidak hanya menginfeksi siswa, tetapi juga mengepidemi pada orang tua siswa dan sekolahnya. Hal ini rupanya mendorong orang tua untuk mendaftarkan putra-putrinya ke tempat kursus sepulang sekolahnya, membuat jam lembur setelah belajarnya di sekolah. Hal mana yang ditangkap sebagai peluang bisnis yang tak akan kekurangan pasar. Tak jauh beda dengan apa yang terjadi di sekolah. Kegiatan belajar mengajar menjadi lebih spesial, meski kadang diskriminatif, dengan dibentuknya kelas-kelas khusus, pelajaran-pelajaran tambahan, semua menambah ketegangan menjelang unas.
Terkadang maksud baik menampilkan hitungan mundur di halaman depan sekolah dirasakan siswa di sekolah berkualitas rendah sebagai ancaman kegagalan. Menyadari bahwa sulit bagi siswa-siswa tersebut mengejar ketertinggalannya, maka semakin mendekat ke hari-H, mereka banyak yang keluar jalur. Cara yang kemudian banyak ditoleransi oleh siswa adalah dengan berbuat “membantu orang tua”, dengan tidak jujur alias curang: mencontek. Bahkan cenderung ditanamkan oleh pihak sekolah sendiri dengan pesan-pesan eufemis “bantulah temanmu” kepada siswa yang lebih pandai di kelas dan pesan “jangan terlalu ketat, bijaksanalah” kepada pengawas ujian yang kita semua tahu maksudnya apa.
Diakui atau tidak unas-lah yang menjadi pemicu semua efek berantai tadi. Jika ini yang menjadi dampak mayor ujian nasional, maka sudah seharusnya kita bisa menilai bagaimana efektivitas mekanisme standarisasi mutu pelajar di Indonesia ini. Berkat unas, sekolah gagal menjadi instrumen pendidikan, karena siswa tidak lagi menjadi subyek, melainkan obyek menderita. Dengan kata lain yang mungkin terdengar kasar, siswa menjadi korban ambisi.
Berbeda halnya, jika bukan apa yang telah diuraikan di atas yang terjadi, maka bolehlah kita melanjutkan penyelenggaraan ujian-ujian nasional berikutnya.

